Bergelar " La Tenri Tatta To Unrung To Risompae Petta Malampe'e Gemme'na Daeng Serang To Appatunru Sri Sultan Sa'aduddin ", beliau lahir 15/ september/ 1634 di Lamatta, Mario ri Wawo, Soppeng. Bapaknya adalah bangsawan bugis La Pottobunna, Arung Tana Tengnga, sedang ibunya juga dari keturunan bangsawan yang bernama We Tenri Suwi, Datu Mario Ro Wawo ( anak dari La Tenri Ruwa Paduka Sri Sultan Adam, Arumpone Bone ). Jelas sudah bahwa darah yang mengalir didalam nadi dan tubuhnya kedua-duanya murni dari garis darah biru Tanah Bugis. wajar jika kelak pembawaannya yang bersahaja dan berwibawa dimata teman dan lawannya. Seorang lelaki yang kelak menjadi pebincangan ditanah kelahirannya sampai ia meninggal, seorang lelaki yang kelak mampu mengguncangkan tanah Batavia (jawa) di masa perantauannya.Pada saat beliau baru menginjak umur 11 tahun, terjadi konflik antara dua kerajaan besar di Sulawasi selatan. Perang antara kerajaan Bone melawan kerajaan Gowa pecah. banyak pendapat yang beredar dikalangan sejarawan tanah bugis mengenai asal muasal konflik ini. namun yang paing mahsyur dan mendapat tempat dikalangan To Ugi adalah disebabkan karena hal sepele, sabung ayam. bayangkan Sob... betapa kentalnya sifat siri' yang mengalir didalam darah pendahulu- pendahulu kita (Sulawesi). hanya karena sabung ayam saja sampai-sampai konfliknya merembes kedalam lingkup istana kerajaan. Ceritanya begini, pada tahun 1562, raja gowa X " I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng " datang berkunjung ke kerajaan tetangga ( Bone ). Dan disambut baik oleh Raja Bone " La Tenri Rawe Bongkange " sebagai tamu negara. nah, untuk memeriahkan kedatangan para pembesar dari kerajaan gowa, maka diadakanlah pesta rakyat yang diantaranya adalah sabung ayam. kerajaan gowa mempertaruhkan 100 katie emas sebagai hadiah jika ayam aduan kerajaan Bone berhasil mengalahkan Jago (ayam jantan aduan) dari kerajaan gowa. sedangkan Bone sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampung). seyogyanya adu ayam pada masa itu, apa lagi jika dilakukan oleh dua sosok pembesar kerajaan maka bukanlah adu ayam biasa yang sering kita lihat sekarang (masa kini). adu ayam pada dahulu kala didalamnya bermain ilmu-ilmu yang berbau magis, pertandingan kesaktian dan kharisma sang pemilik ayam. lanjut cerita konon ayam aduan raja Gowa yang berjuluk Jangan Ejana Gowa ( ayam merah'nya gowa ) kalah/ mati setelah terkena pukulan ayam aduan raja Bone yang berjuluk Manu Bakkanna Bone ( ayam kuningnya Bone ). Alhasil raja gowa harus menyerahkan 100 katie emasnya, dan bukan hanya itu diatas dari segala emas yang dipertaruhkan justru harga diri sang rajalah yang tercoreng. bagi masyarakat yang menonton kala itu kekalahan ayam adua gowa menjadi tanda bahwa kharisma sang raja gowa beserta kesaktiaannya jauh dibawah raja bone. peristiwa itu juga menunjukkan betapa kuatnya pengaruh psikologis dari " massaung Manu ". kerajaan TelluLimpoe yang sebelumnya menjadi Wanua Palili Kerajaan Gowa malah bergabung dengan kerajaan Bone. hal itu pulalah yang dijadikan dalih bagi kerajaan Gowa untuk memutuskan tali persaudaraannya dengan Bone. dan memilih melakukan perang sebagai bentuk Siri' yang mereka rasa telah tercoreng. pada tahun 1562 serangan pertama dimulai. kemudian berlanjut pada tahun 1565. dalam setiap serangan kerajaan Gowa terhadap Bone selalu mampu dipatahkan. bahkan raja gowayang bergelar " I Taji Barani Daeng Marumpa Karaeng Data Tunibata " meniggal dalam upayanya menggempur Bone. Hal ini membuat Gowa semakin membara dan tak hentinya menggempur kerajaan tetangganya tersebut. barulah setelah raja Gowa yang bergelar " I Mangerangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanga Ri Gaukanna " naik tahta Bone bisa dikalahkan. kekalahan bone dari gowa cukup telak, para penghuni istana termasuk Arung Palakka kecil sindiri menjadi tawanan gowa. mereka dibawa kekerajaan gowa sebagai tahanan perang. beruntung bagi Arung Palakka kecil, karena beliau diambil dan diasuh oleh Karaeng Pattingaloang, salah atu pembesar istana kerajaan gowa yang terkenal akan kebijaksanaan, pandai mengolah takti perang, serta gemar berkecimpung di dunia sastra. di lingkungan kerajaan gowa, arung palakka kecil diberi kebebasan penuh oleh karaeng patingaloang utnuk bergaul dan belajar layaknya putra mahkota kerajaan gowa yang lain. beliau dikenal sebagai pemuda yang berani, tangkas, kuat, serta pintar. namun di umur 26 tahun beliau memberontak, hal itu didasari oleh kebijaksanaan kerajaan gowa yang juga menyuruh para bangsawan bone untuk ikut serta dilapangan saat pembangunan kanal besar di sekitar benteng kerajaan gowa sebagai pelindung dari serangan VOC yang juga telah merapat ketanah Celebes (sulawesi) saat itu. melihat semua pembesar Bone disuruh bekerja serta membaur dengan rakyat jelata yang nota bene strata bangsawannya jauh dibawah mereka, membuat rasa Siri', Pacce'nya terusik. Siri' perasaan malu karena melihat saudara serta kerabatnya menjadi budak dalam artian budak yang sebenarnya, Pacce' perasaan sakit hati melihat para bangsawan dan rakyat Bone disiksa, disuruh kerja paksa, ditindas oleh kerjaan gowa yang justru sebelumnya suda Dia anggap sebagai kelurga kerna telah mengasuhnya. dengan segenap sisa pengikutnya, Arung Palakka melarikan diri ke Buton. disana mereka disambut baik oleh raja Buton, namun mendengar berita bahwa pasukan Gowamulai mendekat dan mengendus pelarian dirinya. maka Arung Palakka pamit pada Raja Buton. Beliau berlayar ke Batavia sebagai antisipasi sergapan dadakan pasukan gowa yang ingin menngkapnya kembali. didalam bahtera yang membawanya ke tanah batavia dia sekilas melihat kebelakang, matanya berkaca- kaca melihat tana kelahirannya terpaksa Ia tinggalkan. namun didalam hatinya terpatri janji bahwa dia akan kembali membebaskan Bone dari penjajahan kerajaan gowa, dia akan kembali untuk rakyatnya. segala cara ia akan tempuh untuk melihat kemakmuran kembali di kerajaan Bone walau darah harus menetes, walau nyawa terpaksa ia regangkan. setelah mengucapkan janjinya, pandangannya mengarah kedepan, dan tak sekali-kalipun menoleh kebelakang lagi.setelah terombang ambing lama dilautan luas, akhirnya sampilah beliau di tana Batavia. kedatangannya disambut baik oleh VOC yang saat itu juga sedang memerangi kerajaan gowa. Arung Palakka diberikan lahan yang luas berserta pengikutnya didaerah yang sekarang kita kenal sebagai kali angke. merka mebangun rumah sebagai tempat berteduh saat terik matahir ataupun hujan mendera. tidak butuh lama bagi seorang Arung Palakka dikenal di Tanah Batavia. Ditanah perantauannya itulah beliau dikenal sebagai sosok yang pemberani, para pendekar seantero Batavia akan bergetar jika mendengar namanya. dia dikenal sebagai sosok pendekar pemberani, dengan rambutnya yang panjang, perawakannya yang tinggi dan besar. dipinggangnya terselip badik yang mampu menciutkan nyali lawannya, badik yang mampu memburai usus hanya dengan sekali tikam. nama badiknya dikenal dengan julukan La Makkawa, karena selalu tepat sasaran membunuh lawannya. sedang ditangan kirinya setia tombak mendampingi setiap langkah sang empu/ pemilik. tombak beliau dijuluki La Tenri Duni, karena pantang terkalahkan bila digunakan bertarung bersama empunya. bukan hanya sosok arung palakka saja yang menjadi buah bibir penghuni batavia, pengikut arung palakka juga tak kalah hebatnya dimata pendekar- pendekar batavia, ,mereka dijuluki To Angke' ( orang yang memiliki Harga Diri ). sampai- sampai nama daerah yang mereka tempati dulu berubah nama menjadi kali Angke, dan tidak pernah berganti nama sampai sekarang. bahkan saat batavia berganti nama menjadi jakarta, kali angke tetap tak bergeming. di batavia arung palakka menjalin kongsi dengan Speelman, Mantan gubernur di coromandel namun dilepas jabatannya karena dianggap melakukan korupsi. selain berteman dengan Speelmnan, Arung Palakka juga menjalin persahabataqn dengan Kapiten Jonker, seorang yang juga meninggalkan kampung halamannya ( Pulau Manipa ) untuk mencari jati diri ditanah perantauan. tiga tokoh kuat ini dengan kongsi dan kerjasamanya berhasil mengangkat berndera mereka di batavia yang terkenal dengan kota ramai, serta persaingan yang ketat pada saat itu. VOC sangat percaya pada mereka hingga ada beberapa kasus konflik diwilayah jajahannya yang dengan berani mereke serahkan kepada ketiga tokoh itu u ntuk diredam. salah satunya adalah saat terjadi pemberontakan masyarakat pribumi di minangkabau/ sumatera. Arung Palakka beserta pengikut To Angke'nya diutus untuk meredam. disana beliau berhasil mematahkan perlawanan masyrakat minangkabau bahkan berhasil memprluas wilayah jajahan VOC sampai di ujung semenanjung Sumatera, beliau juga berhasil memutus tali kerjasama antara minangkabau dengan aceh yang pada saat itu sedang kuat- kuatnya. sekembalinya dari sumatera, VOC semakin mantap menjadikan Arung Palakka sebagai tangan kanannya. sedang Arung Palakka juga dalam hati memiliki niat dan menyusun rencana agar kelak pada saat penaklukannya terhadap kerajaan gowa, Dia bisa dengan leluasa menggunakan bantuan VOC serta alat- alat tempur perangnya. seiring berjalannya waktu, saat yang dinantipun tiba. di makassar meledak peperangan Makassar antara kerajaan Gowa dengan VOC. pada tahun 1666 sampai tahun 1669 perang makassar mulai membara, berkali- kali serangan VOC mampu dipatahkan oleh kerajaan Gowa yang pada saat itu juga sudah sangat kuat, dikarenakan menyatunya dua kerajaan besar yaitu Gowa dengan Tallo. bahkan di abad ke-17 kerajaan gowa-tallo menjadi satu-satunya kerajaan yang mampu mengibarkan bendera kerajaan mereka ditengah himpitan Voc, kerajaan Gowa-Tallo mnjadisatu0satunya kerajaan terbesar di abad ke-17 saat itu. karena kewalahan maka VOC meminta Arung Palakkka untuk membantu mengalahkan kerajaan gowa-Tallo yang sedang dihadapinya saat itu. tidak butuh waktu lama bagi Arung Palakka untuk mengiyakan permintaan VOC. baginya inilah waktu yang tepat untuk membalas sakit hati dahulu, serta saat yang tepat membebaskan rakyat bone dari belenggu jajahan kerajaan gowa. maka berangkatlah beliau bersama pengikut setianya To Angke'. pertempuran ditanah makassar begitu hebat, bahkan tercatat dalam buku harian sejarah VOC, bahwa perang Makassar adalah perang terbesar yang pernah dialami oleh VOC. Arung Palakka beserta bala tentaranya dengan sengit menggempur benteng pertahanan kerajaan Gowa- Tallo di daratan. sedang VOC menggempur dari laut dengan kelengkapan amunisi serta meriamnya. kerajaan Gowa-Tallo hancur, benteng mereka yang sebelumnya berdiri kokoh kini berlubang akibat hantaman peluru meriam. Sultan Hasanuddin yang saat itu berktahta akhirnya mengalah, dan berniat berunding damai/gencatan senjata dengan VOC. tanah makassar seutuhnya kini menjadi jajahan VOC. sedang Arung Palakka kemudian oleh Belanda/ VOC diangkat sebagai Arung Pattiru, Arung Palette, Arung Bone, serta Datu Mario ri Wawo di soppeng, Bantaeng, dan Bontoala/gowa sebagai ucapan terimakasih mereka atas jasa- jasa Arung Palakka beserta Pengikutnya. kini terwujud sudahlah janji yang dulu beliau ucapkan untuk membebaskan rakyatnya dari cengkeraman kerajaan gowa. pada titik ini pulalah kita harusnya bijak berpikir bahwa sosok Arung Palakka bukanlah sosok pengkhianat yang sering didengungkan oleh sebagian orang yang tidak mengkaji lebih dalam, dan hanya menilai berdasarkan kerjasama yang dilakukan arung palakka dengan penjajah belanda/VOC. harus digaris bawahi bahwa pada saat itu nusantara belum menjadi negara indonesia, nusantara masih menjadi pecahan- pecahan kerajaan yang tersebar dari ujung sampai marauke. jadi wajar jika sosok arung palakka lebih mendahulukan kesejahteraan negaranya ( kerajaan Bone ) dengan segala cara yang beliau anggap bisa. Dimata rakyatnya sendiri Arung Palakka dianggap sebagai sang pembebas, dan itu benar adanya. pada 6-april-tahun 1696 beliau mangkat/ meninggal di gowa, Bontoala. beliau meninggalkan rakyatnya setelah bersusahpaya berhasil mewujudkan cita-citanya dengan membebaskan Bone dari jajahan Gowa. beliau sampai akhir hayatnya tidak memiliki keturunan, dan digantikan sebagai Arung di Bone oleh keponakannya. pernikahan Arung Palakka sendiri berlangsung empat kali, istri pertama beliau adalah Arung Kaju (cerai)-Sira Daeng Talele Karaeng Balla Jawa ( janda dari karaeng bontomarannu dan karaeng karunrung abdul hamid)- La Tenri Bali Beowe II ( datu soppeng/ janda dari La Suni, Adatuwang Sidenreng )- dan yang terakhir Daeng Marannu Karaeng Laikang ( putri dari Pekampi Daeng Mangempa Karaeng Bontomaranu, gowa) merupakan janda dari Karaeng Bontomanompo Muhammad. dari lika-liku pernikahan beliau, dapat dilihat jika beliau juga menikahi putri dari kerajaan gowa, agar kelak nantinya anak cucu dari kerajaan Bone-kerajaan Gowa ini bisa menyatu dan sedapat mungkin mengurangi konflik lama yang pernah beliau alami. sungguh mulia cita- cita beliau.
# penulis sendiri sedapat mungkin tidak memihak diantara salah satu kerajaan Bone - maupun kerajaan Gowa, penulis lahir di Sinjai dan memang asli Sinjai ( sebuah kabupaten kacil yang menjadi pemisah dua kerajaan besar yang pernah tercatat dalam sejarah kerajaan- kerajaan besar nusantara ). semoga bermanfaat... dan ingat kita semua saudara sob, tidak terkecuali apakah kamu putra/putri Bone ataupun Gowa. " karena bersatu kita kuat "
Pada tahun 1562, Raja
Gowa X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng
(1548 – 1565) mengadakan kunjungan resmi ke Kerajaan Bone dan disambut
sebagai tamu negara. Kedatangan tamu negara tersebut dimeriahkan dengan
acara ’massaung manu’ (Sabung Ayam = Adu Ayam). Oleh Raja Gowa, Daeng
Bonto mengajak Raja Bone La Tenrirawe Bongkange’ bertaruh dalam sabung
ayam tersebut. Taruhan Raja Gowa adalah 100 katie emas, sedang Raja Bone
sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampung). Sabung
ayam antara dua raja penguasa semenanjung timur dan barat ini bukanlah
sabung ayam biasa, melainkan pertandingan kesaktian dan kharisma.
Alhasil, Ayam sabungan Gowa yang berwarna merah (Jangang Ejana Gowa)
mati terbunuh oleh ayam sabungan Bone (Manu Bakkana Bone).
Kematian ayam sabungan Raja Gowa merupakan fenomena kekalahan kesaktian
dan kharisma Raja Gowa oleh Raja Bone, sehingga Raja Gowa Daeng Bonto
merasa terpukul dan malu. Tragedi ini dipandang sebagai peristiwa siri’
oleh Kerajaan Gowa. Di lain pihak, kemenangan Manu Bakkana Bone
menempatkan Kerajaan Bone dalam posisi psikologis yang kuat terhadap
kerajaan-kerajaan kecil yang terletak di sekitarnya. Dampak positifnya,
tidak lama sesudah peristiwa sabung ayam tersebut serta merta
kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Kerajaan Bone menyatakan diri
bergabung dengan atau tanpa tekanan militer, seperti Ajang Ale, Awo,
Teko, serta negeri Tellu Limpoe.
Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
a tahun 1562, Raja Gowa
X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1548 –
1565) mengadakan kunjungan resmi ke Kerajaan Bone dan disambut sebagai
tamu negara. Kedatangan tamu negara tersebut dimeriahkan dengan acara
’massaung manu’ (Sabung Ayam = Adu Ayam). Oleh Raja Gowa, Daeng Bonto
mengajak Raja Bone La Tenrirawe Bongkange’ bertaruh dalam sabung ayam
tersebut. Taruhan Raja Gowa adalah 100 katie emas, sedang Raja Bone
sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampung). Sabung ayam
antara dua raja penguasa semenanjung timur dan barat ini bukanlah
sabung ayam biasa, melainkan pertandingan kesaktian dan kharisma.
Alhasil, Ayam sabungan Gowa yang berwarna merah (Jangang Ejana Gowa)
mati terbunuh oleh ayam sabungan Bone (Manu Bakkana Bone).
Kematian ayam sabungan Raja Gowa merupakan fenomena kekalahan kesaktian
dan kharisma Raja Gowa oleh Raja Bone, sehingga Raja Gowa Daeng Bonto
merasa terpukul dan malu. Tragedi ini dipandang sebagai peristiwa siri’
oleh Kerajaan Gowa. Di lain pihak, kemenangan Manu Bakkana Bone
menempatkan Kerajaan Bone dalam posisi psikologis yang kuat terhadap
kerajaan-kerajaan kecil yang terletak di sekitarnya. Dampak positifnya,
tidak lama sesudah peristiwa sabung ayam tersebut serta merta
kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Kerajaan Bone menyatakan diri
bergabung dengan atau tanpa tekanan militer, seperti Ajang Ale, Awo,
Teko, serta negeri Tellu Limpoe.
Peristiwa itu menunjukkan betapa besar pengaruh psikologis ’Massaung
Manu’ tersebut sehingga menjadi pangkal konflik dan perang Bone Vs Gowa.
Bergabungnya Tellu Limpoe menjadi wanua palili Bone yang sebelumnya
berstatus wanua palili Kerajaan Gowa dijadikan dalih oleh Gowa
melancarkan serangan militer pertama ke Bone dalam tahun 1562. Tahun
berikutnya, serangan militer kedua menyusul dengan jumlah pasukan yang
lebih besar, Serangan militer ketiga dan keempat dilancarkan lagi dalam
tahun 1565. Raja Gowa XI, I Tajibarani Daeng Marumpa Karaeng Data
Tunibata yang hanya naik takhta selama 20 hari ini tewas dalam
peperangan ini. Dalam setiap serangan militer Gowa ke Bone, Gowa tidak
pernah menaklukkan betul Bone sehingga selalu diakhiri dengan perjanjian
Perdamaian, namun Gowa selalu mengingkari perjanjian itu dan tetap
menunggu kesempatan yang baik untuk menaklukkan Bone. Dalam tahun 1575,
dilancarkanlah serangan militer kelima sampai akhirnya Bone benar-benar
dikalahkan dan ditaklukkan dimasa pemerintahan Raja Gowa I Mangerangi
Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna dalam tahun 1611.
Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
a tahun 1562, Raja Gowa
X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1548 –
1565) mengadakan kunjungan resmi ke Kerajaan Bone dan disambut sebagai
tamu negara. Kedatangan tamu negara tersebut dimeriahkan dengan acara
’massaung manu’ (Sabung Ayam = Adu Ayam). Oleh Raja Gowa, Daeng Bonto
mengajak Raja Bone La Tenrirawe Bongkange’ bertaruh dalam sabung ayam
tersebut. Taruhan Raja Gowa adalah 100 katie emas, sedang Raja Bone
sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampung). Sabung ayam
antara dua raja penguasa semenanjung timur dan barat ini bukanlah
sabung ayam biasa, melainkan pertandingan kesaktian dan kharisma.
Alhasil, Ayam sabungan Gowa yang berwarna merah (Jangang Ejana Gowa)
mati terbunuh oleh ayam sabungan Bone (Manu Bakkana Bone).
Kematian ayam sabungan Raja Gowa merupakan fenomena kekalahan kesaktian
dan kharisma Raja Gowa oleh Raja Bone, sehingga Raja Gowa Daeng Bonto
merasa terpukul dan malu. Tragedi ini dipandang sebagai peristiwa siri’
oleh Kerajaan Gowa. Di lain pihak, kemenangan Manu Bakkana Bone
menempatkan Kerajaan Bone dalam posisi psikologis yang kuat terhadap
kerajaan-kerajaan kecil yang terletak di sekitarnya. Dampak positifnya,
tidak lama sesudah peristiwa sabung ayam tersebut serta merta
kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Kerajaan Bone menyatakan diri
bergabung dengan atau tanpa tekanan militer, seperti Ajang Ale, Awo,
Teko, serta negeri Tellu Limpoe.
Peristiwa itu menunjukkan betapa besar pengaruh psikologis ’Massaung
Manu’ tersebut sehingga menjadi pangkal konflik dan perang Bone Vs Gowa.
Bergabungnya Tellu Limpoe menjadi wanua palili Bone yang sebelumnya
berstatus wanua palili Kerajaan Gowa dijadikan dalih oleh Gowa
melancarkan serangan militer pertama ke Bone dalam tahun 1562. Tahun
berikutnya, serangan militer kedua menyusul dengan jumlah pasukan yang
lebih besar, Serangan militer ketiga dan keempat dilancarkan lagi dalam
tahun 1565. Raja Gowa XI, I Tajibarani Daeng Marumpa Karaeng Data
Tunibata yang hanya naik takhta selama 20 hari ini tewas dalam
peperangan ini. Dalam setiap serangan militer Gowa ke Bone, Gowa tidak
pernah menaklukkan betul Bone sehingga selalu diakhiri dengan perjanjian
Perdamaian, namun Gowa selalu mengingkari perjanjian itu dan tetap
menunggu kesempatan yang baik untuk menaklukkan Bone. Dalam tahun 1575,
dilancarkanlah serangan militer kelima sampai akhirnya Bone benar-benar
dikalahkan dan ditaklukkan dimasa pemerintahan Raja Gowa I Mangerangi
Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna dalam tahun 1611.
Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin