Monday, March 16, 2015

stand up comedy dan sisi negatifnya



Mksr. Akhir- akhir ini trend stand up comedi atau sering akrab ditelinga "suci". Mewabah dikalangan remaja, bahkan tak sedikit pula kalangan dewasa/orang tua yang juga ikut-ikutan menggandrungi program yang satu ini. Dianggap sebagai wadah lawak yang kreatif,banyak nama- nama baru didunia lawak mulai ditelurkan. Mulai dari mahasiswa, karyawan swasta, pegawai negeri sipil, bahkan tak jarang ditemui distasiun tv polisi yang merangkap menjadi komik ( julukan untuk pelakon ). Ratusan orang berjubel mengisi aula hanya untuk menikmati acara yang sedang naik daun ini. Walau banyak dampak positif yang diberikan dari "suci" ini, namun harus diakui pula bahwa tidak sedikit pula sisi negatif yang muncul. Salah satunya adalah seringnya kita dengar para komik menyelipkan penggunaan bahasa "keras" didepan umum yang secara awam dinilai berbenturan dengan kulture budaya masyarakat indonesia. Kata atau kalimat yang kadang muncul misalnya "anjing...", "goblok...", "tai..." dll. Walau tidak semua komik sering kedapatan menggunakan bahasa ini, namun sering dijumpai satu dua orang yang tetap memakainya sebagai dalih ajang candaan yang diharap mengundang tawa pendengar agar bahan lawakannya lebih hidup. Memang untuk penonton di depan tv pasti akan melewatkannya karena rata- rata stasiun tv tertentu akan men-sensor semua hal-hal yang dianggap berlebihan. Tapi tentu beda halnya bagi penikmat langsung yang standby didepan panggung. terlebih lagi sering dijumpai banyaknya anak2 yg juga ikut menjadi konsumen/ penikmat acara ini. Selain penggunaan kata-kata "keras", realita yang sering dijumpai dilapangan juga adalah kebiasaan para komik yang dalam penyampaian materi lawakannya  terkadang penggunaan kalimat-kalimat olokan terhadap orang-orang sekitar mereka yang dijadikan objek cerita dinilai terlalu melewati batas kesopanan. Alasan agar respon pendengar/ penonton lebih kuat, maka memanfaatkannya sebagai dalih pembenaran. ada yangbmengolok temannya, kakak, adik, bahkan tak jarang kekurangan ayahnya yang dianggap konyol dijadikan bahan cerita. Harus diakui jika secara tidak langsung pasti akanmembawa dampak buruk bagi si pembawa ataupun sipenyimak. Kebiasaan menggunakan bahasa yang tidak layak dalam kehidupan bergaul sehari-hari lambat laun nantinya akan menjadi kebiasaan. Seyogyanya pulalah kita harus bijak dalam menanggapi semua itu, agar kelak ank cucu kita tetap bisa berjalan diatas garis tradisi sopan khas bangsa melayu warisan leluhurnya. Semoga

No comments:

Post a Comment